Pilih E34 atau E39?

“Maaf Lik, konsultasi lagi. Setelah nyoba-nyoba, ternyata enak Seri 5. Kalo Seri 5 enaknya pilih E39 atau E34 ya Lik? Terima kasih sebelumnya.”

Demikian inbox seseorang ke saya.

Lebih dari lima tahunan silam, saat harga beli apalagi biaya maintenis E39 masih (lumayan jauh) teramat mahal (dibanding E34), saya pernah “menasihati” seorang kawan yang hendak membeli E34. Seharian mati-matian saya nasihati pilihannya agar beralih ke E39 saja.

Kenapa?

Secara umum:

  • E39 lebih bermasa depan ketimbang E34. Tampangnya masih akan enak dilihat, masih up-to-date, hingga sekian tahun ke depan.

    Berbalik dengan E34 yang makin esok pasti akan makin jadul.
  • Meski kala itu harga beli apalagi maintenis E39 masih (lumayan jauh) teramat mahal dibanding E34, tapi price vs value-nya sebenarnya udah dapet. Dan BMW itu punya ciri, dalam lima tahun ke depan semuanya yang masih teramat susah kala itu (susah = rumit, bukan = mahal) niscaya akan tertaklukkan oleh perkembangan jaman.

    Artinya kalau pinginnya dipakai lama, maka E39 sudah bisa mulai dibeli sejak saat itu. Sekali lagi, karena price vs value-nya udah dapet. Kalo E60, masih jauh dari sisi keekonomisannya pada saat itu.

Namun rekan saya tersebut ngeyel. Dia ngotot beli E34 saja. Dan maunya yang V8, enggak mau yang 6 cyls. Alasan dia, dia enggak membenci tampang BMW modern (yang kita anggap saja bergulir mulai E36, E38, E39, apalagi E46 dan seterusnya tentunya), namun doi lebih sangat terobsesi dengan tampang BMW klasik yang lampunya telanjang macam E34 gitu.

(Belakangan doi juga nambah lagi E30 karena keklasikan dan karena ke-E30-annya yang kondang gitu plus sekaligus E36 4 cyls buat kaki harian di kemacetan).

Karena dia yang punya duit, akhirnya saya nyerah. “Nasihat” dan segala rayuan maut saya seharian penuh tentang E39 akhirnya mentah di belakang. Doi lantas meminang E34 V8.

***

Lima tahun (lebih) telah berlalu. Apa yang terjadi sekarang?

E34-nya malah makin cakep. Dirawat terus. Ya wajar orang dia punya duit. Terakhir E34-nya barusan dicat total. Cakep sih. Padahal biasanya saya agak suka enggak enak ngeliat BMW dicat ulang gitu.

Sepatunya juga dipasangi M-Par. Velg yang tampangnya timeless macam Alpina gitu.

Selebihnya, enggak ada aksesoris tambahan apapun. Ya kecuali bumper M-Tech (kalo enggak salah) yang terpaksa doi beli karena bumper depannya pecah.

Dan jika disandingkan dengan E39 -katakanlah dalam kondisi sama- sekalipun, saya yakin siapapun pasti bakal bilang cakep E34-nya. Minimal enggak kalah cakeplah mengingat umur/generasi E34 lebih tua dibanding E39. Karena apa?

Sederhana saja, kenyataan di lapangan kalau kita melihat mobil (yang lebih) baru itu lebih cakep ketimbang mobil lawas, ya wajar karena dia baru.

Tapi kalau ada mobil lawas yang kerawat dengan baik dan benar, maka sangat amat wajar jika kita nilai dia lebih cakep ketimbang si mobil baru. Ini efek psikologis yang bakal muncul di lapangan jika kita bisa mengkomparasikan keduanya sekaligus.

Kesimpulan saya: BMW itu semakin tua justru akan semakin cakep kalau terawat dan pas dandanannya.

Dan dandan BMW itu malah sederhana: cukup ganti velg saja atau plus pakai bodykit desain dari single-tuner. Jangan sekali-sekali bikin bodykit sendiri ala-ala -maaf- mopangan. Asli dijamin malah tambah norak!

Nah, sekarang kembali ke pertanyaan si Paklik: pilih E34 atau E39?

Lima tahun setelah saya mati-matian merayu teman agar ngangkat E39 kemarin itu, saat ini saya malah enggak bisa ngasih saran.

Saya mau sarankan E39 saja dengan alasan seperti kemarin plus lebih update lagi: harga ngangkatnya udah murah, maintenisnya udah semakin terjangkau, dan tampangnya juga masih kekinian;

rassanya koq saya eman/sayang: karena ternyata E34 yang cakep itu bisa relatif jauh lebih keren ketimbang E39 yang sama-sama cakepnya.

JADI saran saya: pertimbangkan bersama istri atau keluarga.

Karena sepengalaman saya, 9 dari 10 bapak-bapak yang pingin minang E34, batal dan gagal karena diveto oleh bini-bininya. Tapi dari bapak-bapak yang gagal minang E34 tadi, gagalnya bukan karena kemudian milih E39, melainkan bini mereka ternyata milih E36 atau sedikit yang ke E46.

Ternyata E34 vs E39 itu nggak comparable. Melainkan complementer.

***

Jadi harus pilih E34 atau E39?

Maaf, kali ini saya bener-bener enggak bisa ngasih saran apalagi nasihat.

Karena semakin ke sini, semakin saya sadari bahwa semua BMW itu kerennya sama, meski tahun/generasi dan teknologinya beda. Malah makin tua makin keren bila ia terawat dengan baik dan dandan dengan benar.

Silakan pilih dan njenengan putuskan sendiri (bersama keluarga). Saya angkat tangan.

  • Freema Bapakne Rahman.

BMW GROUP MENDORONG TRANSPORTASI LOGISTIK RENDAH EMISI.

โ€œKami sangat senang menjadi pembuat mobil pertama yang bergabung dengan koalisi ini dan dengan demikian memimpin jalan menuju lebih berkelanjutan.โ€

BMW Group telah memperluas komitmennya untuk menjadikan logistik transportasi lebih berkelanjutan.

Menjelang Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa/United Nations Climate Change Conference (COP 25) di Madrid dan sebagai bagian dari komitmen BMW untuk lebih mengurangi emisi karbon di sepanjang rantai nilai keseluruhan, perusahaan telah bergabung dengan “Getting to Zero Coalition”. Tujuan dari inisiatif ini adalah untuk menggunakan kapal kargo tanpa emisi dari tahun 2030.

Koalisi Getting to Zero adalah kemitraan antara Global Maritime Forum, Friends of Ocean Action, dan World Economic Form.

โ€œTransportasi maritim sangat penting untuk memasok jaringan manufaktur internasional BMW Group dan untuk distribusi kendaraan global. Kami melihat Koalisi Menuju Nol/Getting to Zero dari berbagai pemerintah, perusahaan, dan pemangku kepentingan lintas-sektor lainnya sebagai peluang unik untuk terus meminimalkan emisi karbon di sektor kelautan juga,โ€ tegas Jรผrgen Maidl, Wakil Presiden Senior Jaringan Produksi dan Manajemen Rantai Pasokan di BMW Group. โ€œKami sangat senang menjadi pembuat mobil pertama yang bergabung dengan koalisi ini dan dengan demikian memimpin jalan menuju lebih berkelanjutan.โ€

Transportasi maritim saat ini menyumbang 50% dari emisi CO2 rantai transportasi BMW Group.

Secara global, sekitar tiga persen dari keseluruhan emisi gas rumah kaca berasal dari transportasi laut – dan trennya sangat meningkat.

Sebagai bagian dari Getting to Zero Coalition, BMW Group sekarang ingin mencapai penghapusan total emisi karbon dengan menggunakan bahan bakar bebas karbon dan sistem propulsi baru serta mengoptimalkan efisiensi energi.

BMW GROUP menegaskan kembali kejelasan komitmennya kepada Agenda PBB 2030.

Pengumuman bahwa BMW Group telah bergabung dengan Getting to Zero Coalition sebelum COP 25, yang berlangsung dari 2 hingga 13 Desember di Madrid, bukan kebetulan.

Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa dan kegiatan-kegiatan BMW Group dihubungkan oleh sejarah panjang kolaborasi erat. BMW Group telah secara aktif mengambil bagian dalam konferensi perubahan iklim COP secara teratur sejak 2008. Tahun ini, perusahaan akan menyumbangkan ide-ide baru dan keahlian teknisnya pada pembangunan berkelanjutan sekali lagi.

Fokus kegiatan akan pada keterlibatan baru BMW Group sebagai sponsor utama dari Forum Inovasi Berkelanjutan/Sustainable Innovation Forum (SIF) pada 10 dan 11 Desember 2019.

SIF telah menjadi salah satu konferensi keberlanjutan terkemuka dalam program pinggiran PBB COP selama bertahun-tahun dan secara teratur dihadiri oleh para pemangku kepentingan utama global dari politik, industri, ilmu pengetahuan, dan masyarakat, yang menggunakannya sebagai platform untuk diskusi tentang tantangan pembangunan berkelanjutan. Dalam konteks ini, BMW Group terutama akan menyajikan perkembangan saat ini dalam mobilitas listrik dan menunjukkan bagaimana teknologi pintar dan digital dapat berkontribusi pada mobilitas berkelanjutan.

KEUNGGULAN TERSEMBUNYI BMW E34.

BMW E34 biasa dijuluki Badak. Julukan ini datang dari seorang Bimmerfan dari Surabaya yang sering dipanggil dengan Cak Rizal.

Ada beberapa keunggulan tersembunyi Badak E34, yang sebenarnya kelihatan saja, namun mungkin sering kelewatan dari perhatian orang:

  • Catnya kuat. Bdak yang dirawat dengan wajar, wajar saja enggak usah terlalu banyak perhatian, biasanya warna cat luar dan dalam bodinya masih senada. Bahkan bisa dibilang wajar jika banyak badak yang juga masih senada warna cat bodi luarnya dengan cat di kompartemen mesinnya. Umumnya ini ada pada Badak yang “punya warna”, artinya bukan silver, putih, atau hitam. Namun ini bukan patokan.

    Padahal logikanya, untuk mobil berumur dua puluh tahun lebih seperti E34 ini akan sangat wajar jika cat bodi luarnya lebih kusam ketimbang cat bodi dalamnya.
  • Nyala lampu belakang (tail-lamp), lampu rem (stop-lamp/brake-light), atupun lampu sein depan-belakangnya itu terang sekali. Tebakan saya, ini berkat kualitas batok lampunya yang luar biasa. Bahkan di siang terik pun nyala lampu merah dan kuning itu masih sangat cukup terlihat. Sekali lagi, ini pada mobil yang umurnya sudah duapuluh tahun lebih!

Dua keungguan badak tersebut, biasanya jarang sekali dibicarakan orang. Kebanyakan orang banyak membicarakan keunggulannya pada kenyamanannya yang bener-bener ajib dan biasa pemeliharannya yang lumayan layak -khususnya yang bermesin enam silinder- untuk ukuran BMW dan untuk ukuran mobil yang sangat nyaman dan bisa melaju kencang.

Kelemahan Badak, sering dikeluhkan pada lampu depannya (headlight) yang terkesan minim cahaya jika menggunakan bohlam standar.

Kelemahan ini bisa diakali pakai HID atau LED yg bagus.

Warnanya enggak perlu yang putih (6000 Kelvin), yang 4500K malah bagus jadinya. Senada dengan tema klasiknya.

“Kelemahan” hakiki dan yang paling “lemah” pada badak ya itu tadi: tampangnya yang klasik. Banyak membuat para istri menolak permintaan para suaminya untuk miara E34.

Jadi, beruntunglah Anda-Anda yang dapat izin dari istri untuk miara E34. Brarti istri Anda memang berselera unik tinggi dan luar biasa, makanya doi menerima pinangan Anda dulu itu.

#ehm…

  • Freema HW.
    Foto adalah Lik Faiz Proleevo, redaktur 5050magz.com bersama unit Badak E34 milik Kang Iwan Susanto, Majalengka, Jawa Barat.

Keseruan IBF2019 Surabaya.

Indonesian Bimmerfest (IBF) 2019 Surabaya yang dituanrumahi/di-host oleh rekan-rekan BMWCCI Surabaya Chapter telah terselenggara dan berlangsung dengan sukses pada hari Sabtu, 23 November 2019 kemarin.

Acaranya padat:

  • BMW Car Display.
  • Picnic Party.
  • Olympiade BMWCCI.
  • Battle of Bimmers.
  • Drag Night.

Rombongan dari BUCKS.id

Bimmers Karawang mendapatkan Podium 2 pada kelas 3-Series N/A.

Acara ditutup dengan penampilan Andy /rif dan undian hadiah berupa sebuah sepeda motor Yamaha N-Max yang dimenangkan oleh salah seorang peserta dari Lombok.

Bersamaan dengan penutupan acara, masih berlangsung drag-night yang begitu seru.

BMWCCI Medan Chapter meneruskan perjalanan ke Bali.

BINTANG DAN KOMPUTERNYA.

Bintang Kyoto, adalah junior dari AG009 Lucky Armada yang sedang duduk di bangku Kelas 9. Ia telah lama punya ketertarikan dengan dunia BRAINSOM (branding, informatics, dan social-media).

Beberapa posting di IG-nya disemati penyebutan (mention) pada @bmwccikedirichapter Juga ditempeli logo BMWCCI Kediri Chapter, klub tempat orang tuanya bergabung.

Semangat yang luar biasa, meskipun masih banyak yang harus diajarkan kepadanya. Wajar. Semua akan berproses seperti itu dalam bentuknya masing-masing untuk mengejar sesuatu.

Baru saja, Mas Bintang mendapatkan komputer barunya. Sebuah laptop kelas menengah dengan kemampuan yang sebenarnya melebihi apa yang mungkin dibutuhkannya sebagai pelajar sekolah. Namun kemampuan teknis laptopnya ungkin mendadak akan menjadi biasa jika dia sudah berkarya dengan wujud yang sedemikian rupa: poster atau hasil olah-sunting video. Jadi, yaaa baguslah jika komputer yang ia dapatkan itu berspesifikasi “melebihi” kebutuhannya sekarang.

Dia mulai bersemangat dengan apa saja aplikasi yang diperlukan untuk BRAINSOM-ing. Dan bagaimana tata-aturan penggunaan logo resmi klub

Semangat yang menggebu khas anak remaja. Namun untuk prosesnya, harus dipenetrasikan secara gradual, bertahap, dan berkala. Apaagi saat ini dia hendak menghadapi ujian akhir sekolah, mungkin untuknya cukup diberi pemahaman konsepsional dulu sebelum nantinya baru melangkah ke pemahaman teknis yang lebih mendalam dan perlu fokus serta kemauan yang kebih tinggi agi.

Berkarya dengan dunia grafis-visual itu menyenangkan sekaligus menjemukan. Dan ini sangat susah untuk menjelaskannya. Namun setidaknya: menyenangkan jika kita ditantang untuk menciptakan sesuatu yag hidup, mandiri, dan sepenuhnya memiliki ruang kendali. Namun akan termat sangat enjemukan jika kita harus membuat sesuatu yang mati, jelek, enggak layak untuk diumbar sebagai kebanggaan hanya karena semuanya musti kita lakukan karena kita dibayar oleh klien dan sepenuhnya wajib mengikuti kemauan pribadi mereka yang kadang sesungguhnya susah dipertanggungjawabkan secara estetikal ataupun normatif.

Semoga Mas Bintang dan orang tuanya enggak paham dengan intermezo ini. Karena satu paragraf di atas sesungguhnya memaktub keseluruhan hidup mereka-mereka yang berkecimpung di dunia grafis atau visual. Hahahaha….

Balik ke Mas Bintang, sambil menunggu ujian akhir Kelas 9-nya, mungkin beberapa palikasi ini bisa dipelajari secara konsepsional dulu sebelum nantinya akan terjun ke aplikasi teknisnya.

Inkscape, Aplikasi Pengolah Grafis Kurva.

Sederhananya, ini adalah pensil digital, untuk menggambar secara bebas (freehand), sebagaimana kita semua dulu saat kecil memulai dunia dengan garis, segi, dan lingkaran.

OpenShot, Andalan Tim Brainsom BMWCCI Kediri Chapter.

OpenShot adalah aplikasi penyunting video. Aplikasi yang gratis namun sangat bertenaga ini sayangya memerlukan spesifikasi komputer yang menengaj ke atas. Setidaknya perlu RAM 8 gigabita untuk menjalankannya dengan performa paling bawah.

GIMP dan Photoshop

Keduanya adalah aplikasi pengolah gambar, bukan kurva. GIMP itu bebas diunduh, dan penggunaannya sedikit perlu pemahaman dan kerja keras untuk memahaminya. Sementara Photoshop itu berbayar dan sesungguhnya dia mahal.

Beberapa pengguna Photoshop dengan penggunan yang sederhana akhirnya memilih versi jadulnya yang lahir lebih dari 10 tahun silam.

Namun jika ditelateni, GIMP itu juga teramat sangat bertenaga (powerfull). Hanya saja justru itu tadi, untuk penggunaan yang sangat sederhana, dia kadang malah terkesan agak rumit.

Namun kami dari BRAINSOM BMWCCI Kediri Chapter tetap menyarankan GIMP untuk putra-putri Anda yang tertarik dengan aplikasi olah grafis.

OpenOffice atau LibreOffice

Keduanya adalah aplikasi yang pasti diperlukan oleh semua kalangan yang menggunakan komputer untuk bekerja sekaligus barang yang mungkin sama sekali enggak ada yang kenal dengannya.

Umumnya, semua mengenal MS Word untuk mengetik, MS Excel untuk kalkulasi dan tabulasi, serta MS PowerPoint untuk presentasi.

OpenOffice dan LibreOffice, saudara kembar beda inang pengasuh, punya kemampuan yang sama bertenaganya dan mereka berdua justru gratis & bebas untuk diunduh. Enggak pakai kucing-kucingan dengan tagihan pembayaran jika Anda menggunakan apikasi versi berbayar lainnya.

Kami menyarankan untuk nantinya dipasangi salah satu dari dua alikasi tersebut di komputer putra-putri Anda. Atau jika koneksi internet Anda stabil dan relatif selalu tersedia, lupakan aplikasi offline yang harus dipasang (install) di komputer putra-putri Anda, Gunakan saja Gdocs dan kawan-kawannya untuk bekerja. Ini justru pilihan terbaik menurut kami.

***

Tidak semua komputer putra-putri kita harus diisi aplikasi-aplikasi tersebut di atas. Semua anak dan semua orang tua punya kondisi dan dunianya masing-masing.

Dan enggak semua anak juga perlu punya kemampuan grafis atau visual. Karena setiap anak juga punya preferensi dan dunianya masing-masing.

Dan enggak semua anak yang punya preferenso grafis ataupun visual kelak harus menjadi pekerja di bidang grafis/visual. Sebab untuk kebutuhan personal dan non-komersialpun, itu semua juga masih bisa dimanfaatkan.

Ini hanya seuah pengantar. Selebihnya, BMWCCI Kediri Chapter di mana saya tergabung di dalamnya akan membikin BRAINSOM for Bimmerkids untuk memperkenalkan dunia brainsom kepada sesiapa yang tertarik.

Nanti. Pelan-pelan dan bertahap.

  • Freema HW,
    – Redaktur https://5050magz.com
    – Warga BMWCCI Kediri Chapter.
    – Warga BRAINSOM BMWCCI.

Munas Ke-8/2019 BMWCCI.

Sehari sebelum Indonesian Bimmerfest 2019, pengurus pusat (Pengpus) BMW Car Clubs Indonesia (BMWCCI) menggelar musyawarah nasional (Munas) BMWCCI. Ini adalah munas yang kedelapan.

Agenda utama Munas adalah pemilihan presiden (dan wakil presiden) BMWCCI yang akan menjabat pada periode 2019 – 2021.

Digelar sejak lepas sholat Jumat hingga malam hari, Munas akhirnya memilih Raden Cahyo Adhi Nugroho dari BMWCCI Bandung Chapter sebagai presiden terpilih 2019 – 2021 BMWCCI.

Selamat!

Om Gerry Nasution, founder BMWCCI.
Tengah: eks Wakil Presiden dan Presiden BMWCCI, Om Sigit Prasetyo dan Om Asido Regazzoni.
Eks. Presiden BMWCCI, Om Asido Regazzoni (tengah) bersama dua capres BMWCCI 2019 – 2021, Om Adhi, BMWCCI Bandung Chapter (kiri) dan Om Heru, BMWCCI Jakarta Chapter (kanan).

BMW GROUP CLASSIC MEMENANGKAN GERMAN DESIGN AWARD 2020 UNTUK KAMPANYE “OUR BRANDS. OUR STORIES.”

Setelah sukses dalam “Automotive Brand Contest”, penghargaan lain telah diberikan pada kampanye dengan pendekatan 360ยฐ: Sejarah merek BMW, BMW Motorrad, MINI, dan Rolls-Royce diletakkan dalam konteks dengan keaslian dan daya tarik emosional yang kuat.

Dan tahap kedua dari film seri di YouTube pun diluncurkan.

Beberapa minggu setelah keberhasilannya di “Automotive Brand Contest”, BMW Group Classic sekarang juga telah memenangkan “German Design Award” 2020 untuk kampanye komunikasinya “Our Brands.” Our Stories.”

Secara khusus, penghargaan terkemuka ini mengapresiasi pendekatan multimedia dari kampanye internasional, yang meliputi: blog “classic#heart”, papan iklan dan gambar iklan, dan buletin daring (dalam jaring/online), di samping klip video yang diproduksi dengan kualitas yang sangat tinggi.

“Our Brands. Our Stories.โ€ berfokus pada pemilik dan penggemar merek BMW, BMW Motorrad, MINI, dan Rolls-Royce dari seluruh dunia yang berbagi hasrat untuk mobil dan motor bersejarah mereka.

“Our Brands. Our Stories.โ€ dikembangkan dalam kolaborasi antara BMW Group Classic dan mitra lamanya, agensi kreatif Munich untuk menembakkan satu komunikasi pemasaran.

Atribut utama dari kampanye ini adalah kombinasi dari kisah otentik dengan konten kreatif dari para pengguna merk. Ini berarti bahwa perusahaan dan kelompok target kampanye berbaur bersama menjadi komunitas interaktif yang dinamis.

Dengan format yang menghibur, cerita yang diproduksi menyoroti betapa beragamnya ekspresi antusiasme para pengguna pada mobil dan motor klasik (mereka).

Potret pengalaman individu protagonis diresapi dengan sisi emosional pada kendaraan mereka – terlepas dari usia, jenis, dan kondisi kendaraan.

Latah?

Saya beberapa kali mengalami kondisi kayak begini:

Saya bermobil di jalanan yang relatif sepi namun relatif sempit/enggak terlalu lebar dan lumayan berdebu (di pinggir aspalnya), Ada motor di belakang saya.

Saya berjalan menepi biar motornya nyalip dan neggak terkena debu yang membuar karena tergaruk tapak ban. Namun si motor setia mengikuti saya.

Saya menurunkan kecepatan dengan harapan motor mendahului saya, eh dia juga malah ikutan menurunkan kecepatan.

Hingga akhirnya saya sein kiri, barulah si motor celingukan melihat depan yang sepi, dan sejurus kemudian mendahului saya.


Bukan sekali saja saya mengalami kejadian seperti ini.

Tebakan subyektif saya: itu motor latah berkendara di belakang saya, dan enggak terlalui hirau lagi sigap mengamati kondisi lalu-lintas jalanan.

Saya beranggapan, meskipun saya enggak sein kiri sebagai penanda dia aman mendahului, karena situasi dan medannya sangat memungkinkan bagi itu motor untuk menyalip, seharusnya itu motor bisa mendahului saya dengan bebas dan aman. Jika dia sigap dan senantiasa awas dengan situasi jalan dan kondii lalu-lintas.

Beda dengan truk yang kndisinya kasuistis. Saking besar badannya, truk akan memberikan tanda sein kiri saat dia aman didahului atau tanda sein kanan saat di enggak aman untuk didahului.


Bercermin dari kondisi beberapa pengendara motor yang -maaf- saya bahasakan “latah” di belakang saya itu, sebenarnya ini menunjukkan betapa mirisnya kondisi pengendara jalan raya di lalu-lintas kita.

Masih banyak pengendara yang kurang abai (aware) dan tidak kontinyu berkonsentrasi dengan situasi jalanan.

Apalagi pas di tikungan/belokan, di edalaman Kediri sini sangat jamak poll sekali, bahkan bisa dibilang pasti, semua motor yang belok kanan akan mepet kanan. Terutama di jalan perkampungan/bukan jalan raya utama. Bahkan seringkali kita yang harus mengalah karena ruas kita dikooptasi oleh pemotor yang belok kanan.

Padahal di ruas jalan itu pasti ada garis, entah garis marka atau garis virtual, yang membagi ruas jalan menjadi dua. Sebelah kiri (karena kita setir kanan/lajur kiri) adalah ruas kita, dan sebelah kanan adalah ruas milik pengendara dari arah berlawanan.

Sayangnya, hal esensial seperti ini hingga hari ini enggak pernah dijadikan perhatian serius untuk diatasi oleh kepolisian atau pihak berwenang/pemerintah.

Ini menyangkut dua hal sekaligus: teknis ketrampilan & keahlian berkendara (skill) dan mentalitas si pengendara. Ujung/akibat yang bisa jadi kroban dari semua fenomena (kekacauan mengemudi) ini adalah: ((tidak) terjaganya) nyawa kita.

IMHO CMIIW.

  • Freema Bapakne Rahman.

Pemeriksaan sebelum bepergian.

Ada yang sudah biasa menghadapi perjalanan jauh, ada yang jarang-jarang.

Sekedar mengingatkan, berikut beberapa hal yang perlu diperiksa dan dipastikan sebelum memulai perjalanan (jauh) dengan kendaraan kita.

  • Pastikan ban aman, ada ban serep dan dongkraknya.
  • Pastikan semua lampu berfungsi dengan baik: lampu depan, lampu sein, lampu belakang, lampu rem.
  • Pastikan wiper bekerja dan berfungsi dengan benar.
  • Pastikan semua fluida aman, tidak ada yang bocor, dan sesuai kapasitasnya: oli mesin, oli transmisi & gardan, minyak rem & kopling, air radiator, air wiper.
  • Pastikan saringan udara bersih dan busi bekerja dengan normal.
  • Pastikan saldo etoll cukup.
  • Pastikan minum air putih secara berkala.
  • Pastikan batere HT terisi penuh.

Semua bentuk perawatan dan penanganan darurat ada di buku manual. Baca kembali buku manualmu sebelum berkendara jauh.

Selamat menikmati perjalanan.

Gadis Cirebon Pemenang The Voice of Germany.

Claudia Emmanuela Santoso namanya. Lahir di Cirebon, 27 Oktober 2000. Ia adalah juara ajang pencarian bakat menyanyi The Voice of Germany musim kesembilan yang ditayangkan di dua televisi nasional Jerman, Prosieben dan Sat.1 pada tahun 2019.

Kemenangannya menjadi torehan sejarah sebagai orang Indonesia sekaligus Asia pertama yang berhasil menjuarai ajang tersebut.

Claudia mengikuti sekolah musik sejak usia 4 tahun. Saat itu orang tua Claudia melihat adanya bakat dalam dunia musik. Bakat Claudia sendiri terlihat dari kebiasaannya sebelum tidur, yaitu bernyanyi atau mendengarkan musik.

Claudia mulai mengikuti ajang pencarian bakat di Indonesia dengan mengikuti AFI Junior pada tahun 2008, Idola Cilik pada tahun 2011 serta Mamamia pada tahun 2014.

Paman Claudia (kakak kandung dari ibunya) mendorongnya agar ambil kuliah di Jerman. Dengan inisiatif dari pamannya juga, Claudia dibiayai untuk mengikuti kursus di Goethe – Institute Indonesia di Bandung hingga selesai tahap A1. Pada saat liburan semester, dia didaftarkan untuk melanjutkan kursus bahasa Jerrman nya secara intensif di kursus bahasa Inlingua-Munich, Jerman hingga mencapai tahap A2.

Setelah lulus dari SMA, Claudia meninggalkan keluarga untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Munich, Jerman. Berkat dukungan dari Paman dan Tante-Tantenya untuk mengurus ijin tinggal dan segala persyaratan/keperluan lainnya, akhirnya Claudia bisa melanjutkan belajar di sana. Dari situlah Claudia mulai mewujudkan impiannya dengan mengikuti ajang pencarian bakat The Voice of Germany.

Claudia mengikuti audisi pertama ‘The Voice of Germany’ di kota Munchen/Munich pada Februari 2019. Dalam kontes ini, Claudia bersaing dengan kurang lebih 2.000 peserta dari berbagai asal. Maret 2019, Claudia mendapatkan berita bahwa ia lolos tahap pertama dan ia pun bisa lanjut ke tahap selanjutnya yang diadakan di Berlin hingga akhirnya Claudia lolos lagi ke tahap selanjutnya yaitu tahap Blind Audition.

Dalam tahap Blind Audition, Claudia membawakan lagu Never Enough yang merupakan soundtrack film The Greatest Showman. Penampilan Claudia dalam menyanyikan lagu ini menarik para juri The Voice of Germany hingga menjadi perhatian banyak orang di media sosial. Bahkan video Claudia saat Blind Audition menjadi salah satu video yang paling banyak ditonton dalam sejarah The Voice of Germany.

Claudia tampil konsisten dan sangat memukau selama berlangsungnya ajang The Voice of Germany. Hingga pada tahap final Claudia membawakan 3 lagu, yaitu “Castles”, “I Have Nothing” dan “Goodbye”.

Dengan perolehan 46,39% Claudia dinyatakan sebagai pemenang The Voice of Germany season ke-9 dan merupakan orang Asia pertama yang memenangkan ajang tersebut.

Pada malam final The Voice of Germany, Claudia membawakan singel perdananya yang berjudul Goodbye, berduet dengan pelatihnya Alice Merton. Sejak dirilisnya lagu Goodbye pada tanggal 10 November 2019, singel tersebut berhasil masuk chart di iTunes Indonesia dan beberapa negara di Eropa.