Pilih E34 atau E39?

“Maaf Lik, konsultasi lagi. Setelah nyoba-nyoba, ternyata enak Seri 5. Kalo Seri 5 enaknya pilih E39 atau E34 ya Lik? Terima kasih sebelumnya.”

Demikian inbox seseorang ke saya.

Lebih dari lima tahunan silam, saat harga beli apalagi biaya maintenis E39 masih (lumayan jauh) teramat mahal (dibanding E34), saya pernah “menasihati” seorang kawan yang hendak membeli E34. Seharian mati-matian saya nasihati pilihannya agar beralih ke E39 saja.

Kenapa?

Secara umum:

  • E39 lebih bermasa depan ketimbang E34. Tampangnya masih akan enak dilihat, masih up-to-date, hingga sekian tahun ke depan.

    Berbalik dengan E34 yang makin esok pasti akan makin jadul.
  • Meski kala itu harga beli apalagi maintenis E39 masih (lumayan jauh) teramat mahal dibanding E34, tapi price vs value-nya sebenarnya udah dapet. Dan BMW itu punya ciri, dalam lima tahun ke depan semuanya yang masih teramat susah kala itu (susah = rumit, bukan = mahal) niscaya akan tertaklukkan oleh perkembangan jaman.

    Artinya kalau pinginnya dipakai lama, maka E39 sudah bisa mulai dibeli sejak saat itu. Sekali lagi, karena price vs value-nya udah dapet. Kalo E60, masih jauh dari sisi keekonomisannya pada saat itu.

Namun rekan saya tersebut ngeyel. Dia ngotot beli E34 saja. Dan maunya yang V8, enggak mau yang 6 cyls. Alasan dia, dia enggak membenci tampang BMW modern (yang kita anggap saja bergulir mulai E36, E38, E39, apalagi E46 dan seterusnya tentunya), namun doi lebih sangat terobsesi dengan tampang BMW klasik yang lampunya telanjang macam E34 gitu.

(Belakangan doi juga nambah lagi E30 karena keklasikan dan karena ke-E30-annya yang kondang gitu plus sekaligus E36 4 cyls buat kaki harian di kemacetan).

Karena dia yang punya duit, akhirnya saya nyerah. “Nasihat” dan segala rayuan maut saya seharian penuh tentang E39 akhirnya mentah di belakang. Doi lantas meminang E34 V8.

***

Lima tahun (lebih) telah berlalu. Apa yang terjadi sekarang?

E34-nya malah makin cakep. Dirawat terus. Ya wajar orang dia punya duit. Terakhir E34-nya barusan dicat total. Cakep sih. Padahal biasanya saya agak suka enggak enak ngeliat BMW dicat ulang gitu.

Sepatunya juga dipasangi M-Par. Velg yang tampangnya timeless macam Alpina gitu.

Selebihnya, enggak ada aksesoris tambahan apapun. Ya kecuali bumper M-Tech (kalo enggak salah) yang terpaksa doi beli karena bumper depannya pecah.

Dan jika disandingkan dengan E39 -katakanlah dalam kondisi sama- sekalipun, saya yakin siapapun pasti bakal bilang cakep E34-nya. Minimal enggak kalah cakeplah mengingat umur/generasi E34 lebih tua dibanding E39. Karena apa?

Sederhana saja, kenyataan di lapangan kalau kita melihat mobil (yang lebih) baru itu lebih cakep ketimbang mobil lawas, ya wajar karena dia baru.

Tapi kalau ada mobil lawas yang kerawat dengan baik dan benar, maka sangat amat wajar jika kita nilai dia lebih cakep ketimbang si mobil baru. Ini efek psikologis yang bakal muncul di lapangan jika kita bisa mengkomparasikan keduanya sekaligus.

Kesimpulan saya: BMW itu semakin tua justru akan semakin cakep kalau terawat dan pas dandanannya.

Dan dandan BMW itu malah sederhana: cukup ganti velg saja atau plus pakai bodykit desain dari single-tuner. Jangan sekali-sekali bikin bodykit sendiri ala-ala -maaf- mopangan. Asli dijamin malah tambah norak!

Nah, sekarang kembali ke pertanyaan si Paklik: pilih E34 atau E39?

Lima tahun setelah saya mati-matian merayu teman agar ngangkat E39 kemarin itu, saat ini saya malah enggak bisa ngasih saran.

Saya mau sarankan E39 saja dengan alasan seperti kemarin plus lebih update lagi: harga ngangkatnya udah murah, maintenisnya udah semakin terjangkau, dan tampangnya juga masih kekinian;

rassanya koq saya eman/sayang: karena ternyata E34 yang cakep itu bisa relatif jauh lebih keren ketimbang E39 yang sama-sama cakepnya.

JADI saran saya: pertimbangkan bersama istri atau keluarga.

Karena sepengalaman saya, 9 dari 10 bapak-bapak yang pingin minang E34, batal dan gagal karena diveto oleh bini-bininya. Tapi dari bapak-bapak yang gagal minang E34 tadi, gagalnya bukan karena kemudian milih E39, melainkan bini mereka ternyata milih E36 atau sedikit yang ke E46.

Ternyata E34 vs E39 itu nggak comparable. Melainkan complementer.

***

Jadi harus pilih E34 atau E39?

Maaf, kali ini saya bener-bener enggak bisa ngasih saran apalagi nasihat.

Karena semakin ke sini, semakin saya sadari bahwa semua BMW itu kerennya sama, meski tahun/generasi dan teknologinya beda. Malah makin tua makin keren bila ia terawat dengan baik dan dandan dengan benar.

Silakan pilih dan njenengan putuskan sendiri (bersama keluarga). Saya angkat tangan.

  • Freema Bapakne Rahman.

Latah?

Saya beberapa kali mengalami kondisi kayak begini:

Saya bermobil di jalanan yang relatif sepi namun relatif sempit/enggak terlalu lebar dan lumayan berdebu (di pinggir aspalnya), Ada motor di belakang saya.

Saya berjalan menepi biar motornya nyalip dan neggak terkena debu yang membuar karena tergaruk tapak ban. Namun si motor setia mengikuti saya.

Saya menurunkan kecepatan dengan harapan motor mendahului saya, eh dia juga malah ikutan menurunkan kecepatan.

Hingga akhirnya saya sein kiri, barulah si motor celingukan melihat depan yang sepi, dan sejurus kemudian mendahului saya.


Bukan sekali saja saya mengalami kejadian seperti ini.

Tebakan subyektif saya: itu motor latah berkendara di belakang saya, dan enggak terlalui hirau lagi sigap mengamati kondisi lalu-lintas jalanan.

Saya beranggapan, meskipun saya enggak sein kiri sebagai penanda dia aman mendahului, karena situasi dan medannya sangat memungkinkan bagi itu motor untuk menyalip, seharusnya itu motor bisa mendahului saya dengan bebas dan aman. Jika dia sigap dan senantiasa awas dengan situasi jalan dan kondii lalu-lintas.

Beda dengan truk yang kndisinya kasuistis. Saking besar badannya, truk akan memberikan tanda sein kiri saat dia aman didahului atau tanda sein kanan saat di enggak aman untuk didahului.


Bercermin dari kondisi beberapa pengendara motor yang -maaf- saya bahasakan “latah” di belakang saya itu, sebenarnya ini menunjukkan betapa mirisnya kondisi pengendara jalan raya di lalu-lintas kita.

Masih banyak pengendara yang kurang abai (aware) dan tidak kontinyu berkonsentrasi dengan situasi jalanan.

Apalagi pas di tikungan/belokan, di edalaman Kediri sini sangat jamak poll sekali, bahkan bisa dibilang pasti, semua motor yang belok kanan akan mepet kanan. Terutama di jalan perkampungan/bukan jalan raya utama. Bahkan seringkali kita yang harus mengalah karena ruas kita dikooptasi oleh pemotor yang belok kanan.

Padahal di ruas jalan itu pasti ada garis, entah garis marka atau garis virtual, yang membagi ruas jalan menjadi dua. Sebelah kiri (karena kita setir kanan/lajur kiri) adalah ruas kita, dan sebelah kanan adalah ruas milik pengendara dari arah berlawanan.

Sayangnya, hal esensial seperti ini hingga hari ini enggak pernah dijadikan perhatian serius untuk diatasi oleh kepolisian atau pihak berwenang/pemerintah.

Ini menyangkut dua hal sekaligus: teknis ketrampilan & keahlian berkendara (skill) dan mentalitas si pengendara. Ujung/akibat yang bisa jadi kroban dari semua fenomena (kekacauan mengemudi) ini adalah: ((tidak) terjaganya) nyawa kita.

IMHO CMIIW.

  • Freema Bapakne Rahman.

Tips dan trik memilih dan miara BMW lawas untuk pemula.

Pertama, pastikan hati kita cocok. Bukan karena ikut-ikutan teman. Karena miara BMW itu memang kompleks. Kalau hati enggak cocok, ini berpotensi bikin galau.

Kedua, pastikan kebutuhan dan selera kita yang seperti apa. Ada tiga klasifikasi umum di BMW: kompak, menengah, besar.

Semakin kompak akan semakin lincah di manuver dan handling-nya. Juga simpel di perawatannya, karena teknologi keseluruhannya enggak terlalu kompleks (dibanding seri atasnya).

Semakin besar akan semakin nyaman dan kurang lincah di handling, juga akan semakin rumit di perawatannya karena teknologinya yang teramat kompleks.


Untuk yang bingung model apa yang dipilih, saran terbaik kami adalah E36, dengan mesin M43 jika mencari sisi keekonomisan atau mesin M52 untuk mendapatkan performa yang bertenaga.

Atau E34 dengan mesin M50. Hanya biasanya, tampang klasik E34 ini enggak banyak disukai para istri. Padahal model ini nyaman banget dengan harga perolehan yang relatif murah banget namun dengan perawtaan yang masih relatif terjangkau sekali.

Demikian kisi-kisi kecil untuk yang hendak mulai memilih dan miara BMW.

Dirgahayu 5 tahun BMWCCI Kediri Chapter.

Yang pertama kali mengucapkan selamat ultah kelima BMWCCI Kediri Chapter adalah presiden BMWCCI, Om Asido Regazoni via sebuah komen beliau di sebuah posting IG resmi @bmwccikedirichapter pada 14022019 silam.

14022014 sedianya memang akan dijadikan hari pengukuhan BMWCCI Kediri Chapter. Namun rencana itu tertunda karena sponsor yang katanya komitmen hendak ngasih support ke acara pengukuhan tersebut ternyata batal memberikan dukungannya.

Ndilalah, pas hari itu Gunung Kelud mbledhug. Alhasil, alam seperti menyelamatkan penundaan ini.

Jadilah kemudian acara pengukuhan digeser, rencananya ke 04042014 (de facto) yang secara de jure/administratif baru terlaksana dan diterimalah surat peresmian pada 20042014.

Sejak itu, senantiasa dibikin acara pengingat kelahiran klub ini setiap bulan April. Dari sekedar tumpengan super sederhana secara internal hingga bikin gelaran Bimmercamp sebagaimana terlaksana tahun 2014 kemarin.

April tahun 2019 ini, karena satu dan lain hal yang enggak ada acara khusus untuk memperingati ulang tahun BMWCCI Kediri Chapter. Kalo doa bersama sebagai panjatan syukur dan harapan baik ke depan sih adalah tentunya.

Tapi (meski enggak ada acara khusus) ini bukan alasan bagi saya pribadi untuk terus dan semakin mencintai klub ini, yang memang pada kenyataannya klub ini banyak memberikan banyak hal kepada saya ketimbang saya yang banyak memberi kepada klub ini.

Dirgahayu 5 taon BMWCCI Kediri Chapter.

Semoga klub ini bisa menjadi ajang kegembiraan kepada warganya pada khususnya maupun kepada sesiapa saja pada umumnya.

Semoga klub ini bisa terus memberikan manfaat kepada warganya pada khususnya maupun kepada sesiapa saja pada umumnya.

Semoga klub ini terus bersinar, menyinari, dan di/tersinari; memberikan pencerahan kepada warganya pada khususnya maupun kepada siapa saja pada umumnya.

Semoga klub ini bisa menjadi ajang kumpul maslahat dan sarana buang mudharat.

Semoga klub ini bisa langgeng sepanjang masa, dibimbing oleh BMWCCI sekaligus berkprah kepada BMWCCI.

#

Saya ini asli beneran sungguh enggak punya malu dalam semua hal. Tapi kali ini, pada lima tahun BMWCCI Kediri Chapter ini, saya pribadi justru merasa malu.

Karena saya masih lebih banyak menyusu, meminta, dan menghisap kepada klub ini ketimbang memupuk, merawat, dan membesarkan klub ini.

Lha koq bisa saya merasa seperti ini?

Sebab orang banyak mengenal saya sebagai warga BMWCCI Kediri Chapter, yang artinya saya “menerima” predikat dan identitas dari klub ini; sementara tidak banyak yang bisa saya sumbangsihkan untuk memupuk, merawat, dan membesarkan klub ini.

Ini ucapan selamat sekaligus renungan saya pribadi, pada lima tahun #bmwccikediri #bmwccikedirichapter ini.

#

Selamat ulang tahun BMWCCI Kediri Chapter. Aku mencintaimu sepanjang masa.

  • Freema Bapakne Rahman.

Arsip

Dari semua aset negara yang ada, arsiplah yang paling berharga. Warisan nasional dari generasi ke generasi yang sangat perlu untuk dilestarikan. Tingkat keberadaban negara dilihat dari pemeliharaan dan pelestarian terhadap arsipnya.

Sir Arthur G, Kanada 1924.

Tak terasa, 2019 ini telah lima tahun usia BMWCCI Kediri Chapter. Konon, ini adalah usia kritikal dalam membentuk perjalanan kebersamaan. Sebuah entitas bisnis mungkin akan menemukan bentuk (manajemen rumah tangga)nya setelah menjalani lima tahun perjalanan. Pun dengan beragam organisasi, institusi, atau entitas apapun. Termasuk klub kecil imut BMWCCI Kediri Chapter ini.

Beragam suka-duka sedih-tawa tangis-gembira memang pada kenyataannya mewarnai perjalanan klub resmi BMW yang berada di kawasan Kediri Raya ini.

Mulai hal-ihwal kendaraan seperti kecelakaan yang dialami warga Kedirian, evakuasi kendaraan rekan yang berkendala di perjalanan. italian tuning tengah malam, ngoprek dan troubleshooting, hingga bersama-sama menyatukan semangat menjalani turing panjang;

atau hal-ihwal kekeluargaan seperti meninggalnya keluarga inti, lahirnya baby bimmer baru Kedirian, warga yang telah bertemu jodohnya dan menikah, arisan emak-emak Bimmernita Kedirian yang ostosmastis sekaligus family gathering, kopdar rutin, datangnya warga-rekan/teman-member/anggota baru maupun warga yang dengan baik-baik pamit secara fisik meninggalkan klub karena satu dan lain hal namun berjanji bahwa hati dan jiwanya masih bersama BMWCCI Kediri Chapter, hingga hal-hal ringan sederhana semacam ngopi dadakan.

Semuanya berbaur menjadi satu dalam tubuh keluarga mungil BMWCCI Kediri Chapter ini.

Sebagai klub BMW resmi, BMWCCI Kediri Chapter memang berpegang hanya pada regulasi klub yang tertuang pada AD/ART. Dan dalam lima tahun perjalanan ini, telah banyak arsip terproduksi karena sebab dijalankannya roda pemerintahan dan manajemen klub. Ada surat resmi, notis/pemberitahuan, poster-poster klub, (e)flyer, banner-banner, hingga foto-foto atau video dokumentasi kegiatan.

Pun dalam kesehariannya, di samping hal resmi klub, banyak hal alamiah kekeluargaan yang berlangsung dan terjadi sebagaimana segenap kisah di atas: kelahiran dan kematian, turing dan kopdar, rembug warga (rapat/meeting) dan ngobrol santai, ngoprek dan troubleshooting, evakuasi unit dan italian tuning, dll.

Semua perjalanan bersama sang waktu tersebut, umumnya terekam dalam segala format rekaman, baik foto, video, atau tulisan yang tercecer mulai dari grup WA internal Kedirian hingga blog resmi seperti yang Anda baca ini.


Meski BMWCCI Kediri Chapter masih baru lima tahun menjalani waktu, namun tiada terasa rekaman perjalanan seiring masa ini begitu bejibun. Khususnya segala berkas dalam format digital, karena memang kebijakan semua publikasi, komunikasi, dan interaksi dalam manajemen dan rumah tangga klub menggunakan saluran digital: IG, FB Page, grup WA internal Kedirian maupun internal BMWCCI, dan email serta cloud storage.

Dari awal-awal yang hanya sedikit menerbitkan surat atau segala macam berkas fisik/tercetak, semakin ke sini bukannya semakin banyak berkas fisik yang terproduksi justru malah sebaliknya: semakin sedikit lagi dan bahkan bisa dibilang sudah nyaris tak pernah ada berkas fisik/tercetak yang diproduksi.

Berkas fisik yang masih diproduksi mungkin hanya banner saja untuk kegiatan-kegiatan klub. Selebihnya, semua dalam bentuk digital. Andai saja panel/layar monitor berukuran super besar bisa murah untuk dibeli atau disewa, banner kegiatan klub mending dipajang melalui panel monitor ekstra raksasa saja. Jadi tak perlu ada banner yang kemudian tak bisa dipakai lagi.

Lainnya banner, surat dan berkas tercetak sepanjang 2018 ini hanya berkas surat-surat saat BMWCCI Kediri Chapter mengajukan pembukaan rekening resmi chapter untuk mewadahi segala transaksi finansial klub.

Alhasil, bisa dikata semua berkas tersimpan dalam lima tahun usia BMWCCI Kediri Chapter adalah berkas dalam format digital.


Metode penyimpanan.

BMWCCI Kediri Chapter memiliki tiga kategori berkas untuk disimpan yang mana klasifikasi berkas ini juga menentukan jenis media penyimpanannya.

  • Berkas mentah, yang bisa disimpan bisa tidak.
  • Berkas dukungan, yang perlu disimpan, namun jika hilang masih bisa direproduksi lagi atau kalaupun toh hilang, tidak akan mengganggu jejak sejarah dan/atau menghilangkan kearsipan itu sendiri.
  • Berkas penting & utama, yang wajib disimpan dan diamankan. Ini meliputi seluruh berkas administrasi rumah-tangga BMWCCI Kediri Chapter.

Berkas mentah biasanya terdiri dari gambar-gambar yang didownload untuk membuat sebuah eflyer dll. Jika gambar ini hilang, maka akan bisa dicari lagi di internet. Berkas-berkas ini cukup disimpan di media penyimpanan harddisk atau bahkan langsung dihapus ketika semua telah purna.

Berkas dukungan biasanya terdiri dari foto atau video kegiatan. Sebenarnya berkas ini penting, sebab jika hilang, semua tidak akan bisa diulang lagi. Namun foto dan video kegiatan biasanya semuanya telah diuanggah ke laman Facebook secara internal, dengan foto-foto/video yang telah terseleksi akan dipublikasikan terbuka melalui beragam akun media sosial resmi BMWCCI Kediri Chapter disamping tetap disimpan di perangkat penyimpanan dengan status tak akan dihapus.

Berkas utama, nah ini yang paling penting: selain tetap disimpan di media penyimpanan, berkas utama ini disimpan juga di awan penyimpan (cloud storage) – bahasa Indonesia masih memadankan dengan istilah penyimpanan awan, sementara izinkan kami di sini menggunakan frasa awan penyimpan(an).

Dalam lima tahun perjalanannya ini, BMWCCI Kediri Chapter ternyata hanya memerlukan satu wadah awan penyimpan, yakni Google Drive -yang (akan) berganti merk dagang menjadi Google One dengan kapasitas gratis 15GB.

Namun dalam lima tahun ini, kapasitas segitu ternyata sudah penuh.

Untungnya kita masih mungkin untuk membuat akun Google baru lagi, hanya dengan berbekas nomor ponsel yang belum teraktivasi untuk membuat akun Google. Di sini artinya kita bisa menambah 15GB lagi, yang asumsinya bisa diisi dengan berkas penting untuk lima tahun ke depan lagi.

Adapun media penyimpanan yang dipakai, saat ini masih menggunakan HDD (hard disk drive) yang di dalamnya berisi piringan magnetik bergerak, yang sekalipun dibuat sangat aman oleh pabrikannya, namun ini masih menyimpan potensi rusak dikarenakan adanya benda bergerak di dalam tubuhnya.

Ke depannya, doakan BMWCCI Kediri Chapter akan memiliki kemampuan untuk menambah inventaris SDD (solid state disk), media simpan terbaru yang berisi chip elektronis yang relatif sangat aman dari benturan, jatuh, dan kecelakaan ringan lainnya.

Seiring dengan semakin murahnya harga komersial awan penyimpan, mungkin ke depannya ada kemungkinan kita semua baiknya mulai memindah semua berkas penting bukan hanya di media simpan saja, melainkan langsung digandakan penyimpanannya ke awan penyimpan.

Hanya saja untuk saat ini, dalam hitung-hitungan kas vs berkas BMWCCI Kediri Chapter, itu semua masih dipandang belum perlu dulu. Sekali lagi ini masih pertimbangan saat ini, yang ke depannya mungkin akan berbeda.

Itulah sedikit cerita dibalik metode pengarsipan yang ada di belakang dapur rumah-tangga BMWCCI Kediri Chapter.

Mohon saran dan masukan rekan-rekan semua sekalian. Terima kasih telah membaca.

Cruising speed.

Suatu ketika, saya dipasrahi kunci untuk duduk di belakang kemudi sebuah E36 milik seorang kolega. Jujur saja, saya memacunya 140-160 kpj di ruas tol antara Salatiga, Jawa Tengah hingga Madiun, Jawa Timur.

Lari segitu, eh kami masih berkali-kali disalip oleh kendaraan lain, yang banyak diantaranya berjenis MPV ukuran menengah di sini.

Entah kenapa, mendadak saya koq justru malah ketakutan melihat mereka.

Karena ketakutan melihat kencangnya laju kendaraan lain, akhirnya saya turunkan kecepatan dan stabil di 120-130 kpj. Itu pun karena sandal di kaki saya rasanya masih terlalu berat sehingga enggak sadar masih menekan pedal gas. Alhasil, jadinya terasa susah dan perlu usaha serta konsentrasi tambahan justru untuk mengangkat pedal gas ke maksimal 100 kmh aja, sesuai batas legal maksimal jalan tol.

Bayangkan, perlu usaha serta konsentrasi tambahan justru bukan untuk melaju kencang, melainkan untuk menjaga kecepatan stabil di 100 kpj. Sementara banyak rekan bilang, mengendarai BMW di jalan tol dengan kecepatan 80 kpj itu rasanya seperti orang bingung dan justru berpotensi kita tanpa sadar melamun di jalan.

Dilematis.

Menurut subyektif saya pribadi, cruising-speed BMW, model apapun, itu paling pas enak nyaman enggak bikin ngantuk namun juga enggak terasa ngebut itu di 120 kpj. Kecepatan 100 kpj apalagi “cuma” 80 kpj itu rasanya masih berpotensi bikin ngelamun di jalan.

Sementara batasan kecepatan melaju di jalan tol adalah minimal 60 kpj dan maksimal 100 kpj, tergantung ruas sepertinya ada yang 110 kpj.

Dilematis.


Mengendarai BMW di jalan tol yang lengang dan panjang itu menyenangkan. Namun musuh utamanya bukanlah capek ataupun rasa kantuk, melainkan mendadak tanpa sadar (tentunya) melamun. Melamun, beda dengan mengantuk.

Kita boleh saja berangkat dalam kondisi segar bugar waras-wiris sehat walfiat enggak gampang ngantuk, tensi darah stabil, gula darah normal, rpm jantung normal; tapi kalau terkena “sindrom” tol puanjang lempeng, bisa-bisa mendadak seperti melamun sambil kala mengemudi jika enggak ada navigator yang lihai menjaga ritme psikologis kita.

Navigator harus secara temporer mengajak kita ngobrol/bicara untuk mengetahui kondisi psikologi kita. Namun jika terlalu kerap mengobrol, kadang bisa mengganggu konsentrasi juga. Sementara jika terlalu lama diam, kembalinya itu tadi: berpotensi melamun.

  • Freema HW, sekedar catatan.

BMW Serie-5 E34

Ini bukan tentang bahasan teknis. Ini tentang bahasan non-teknis. Ini tentang ocehan garing dan iseng saya pribadi.

Di Indonesia, BMW Serie-5 E34 ini umumnya dibeli karena harga sekennya yang jatuh nyungsep plus perawatan yang relatif sangat murah -terutama pada varian standar 6cyls atau 4cyls, tidak berlaku untuk V8- namun masih mendapatkan kenyamanan yang khas Serie-5, khas BMW.

Namun tidak melulu demikian karena murahnya; diam-diam buanyakkk namun tersembunyi penggemar kuatnya yang dengan sadar dan sengaja mencari, mengkoleksi, dan merawat E34 karena ini adalah generasi terakhir classic-fascia BMW, ditandai dengan lampu telanjang bulatnya. Nuansa tampang yang unik dan tak semua orang bisa menerima dan menyukainya, namun itu sungguh menarik dan tak lagi bisa didapatkan di generasi/seri-seri setelahnya.

Mereka maniak E34 ini, sama dengan maniak E30 yang susah dinalar kesukaannya, adalah kaum dengan pola pikir dan pola pandang ekstraordinari yang begitu luar biasanya dalam menghobi seri ini. Mereka inilah yang kemudian membentuk dan membangun basis kuat penggila BMW klasik, termasuk E34 ini.

Mereka yang berani merawat seri-seri tua BMW, biasanya justru mendapatkan respek luar biasa, saat dimana mereka bisa saja membelanjakan uangnya untuk sebuah unit (baru) dari tipe pasaran dari merk lain, mereka justru memilih menginvestasikan nominalnya demi tetap well-performed alias performa prima-nya sebuah BMW tua.

Sebab di situ ada fungsi/kebutuhan yang tetap terpenuhi plus ada makanan psikologis yang bisa didapatkan.

โ€“ Freema HW

Opini ini juga tayang di https://www.instagram.com/p/Bnp417ZHyIX/

BMW Serie-3 E36

Ini bukan tentang bahasan teknis. Ini tentang bahasan non-teknis. Ini tentang ocehan garing dan iseng saya pribadi.

BMW Serie-3 E36 ini menurut saya pribadi sungguh mengindonesia banget. Dan emang generasi ketiga Serie-3 ini bisa dibilang begitu populer di Indonesia.

Tampangnya cakep: fase peralihan dari era klasik ke modern yang ditandai dengan terbungkus/cover-nya lampu depan; enggak terkesan kuno dan masih update โ€“ enggak ketinggalan jaman bahkan hingga 25 tahun usianya kini, sehingga para ibu banyak yg menyetujui bahkan mendorong suaminya memilih seri ini ketimbang Serie-5;

perawatannya relatif mudah dan murah meriah;

handling-nya yang bahkan minim fitur kontrol bodi pun terasa masih susah ditandingi -bahkan dikalahkan- bahkan oleh sesama BMW generasi-generasi setelahnya;

dan memberikan opsi yang lumayan luas โ€“ hingga membentuk semacam mazhab kepada penggemarnya: mulai dari mazhab 4cyls yang super hemat โ€“ hingga orang kadang tak percaya bahwa BMW bisa irit BBM dan murmer perawatan, hingga mazhab 6 cyls yang buasss cetar membahana.

Harga jual rata-ratanya kini tak bisa dibilang hancur. Harganya sudah stabil, menyusul & mengikuti harga rata-rata E30 yang telah duluan malah menanjak naik. Bahkan setara dengan harga E46 yang mulai melorot karena kondisi pasar.

Dan, E36 bukan hanya asyik di tol. Meliuk-liuk di kelok-kelok pegunungan adalah joy tak terkira dengan E36.

โ€“ Freema HW

Opini ini juga tayang di https://www.instagram.com/p/BnqTMglAJRO/